Sabtu, 09 Februari 2013

Perahu Warna Warni

Kurasakan ada sesuatu menyentuh tumitku. Sebuah perahu kertas, mungkin terbawa ombak. Kupandangi ia oleng dan terombang-ambing , lalu menepi sebentar bersama buih-buih didekat kakiku. Blerrr, ombak berikutnya datang membawa perahu-perahu kertas lainnya. Biru, hijau, kuning, kini dibawah berjubel tujuh buah perahu kertas beraneka warna. Aku merunduk, menimbang sebuah perahu kertas yang tidak terlalu kuyup. Kubiarkan air asin membasahi belakang kemejaku. Menghirup aroma laut yang masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Perahu-perahu kertas ini, mungkinkah Aini? ***
“Ayo Aini, segera lepaskan perahu-perahu kertas ini”, aku melepaskan perahu kertas berwarna jingga kebibir pantai. “semoga ayah melihatnya El”, lirihnya pelan padaku. “Pasti Aini. Kan aku pernah bilang, masing-masing perahu membawa pesannya sendiri. Merah untuk rindu, jingga berarti apa kabar?, kuning …” “Artinya kami selalu mendoakan ayah”, Aini memotong kalimatku, lalu kami tertawa . “Nah, besok kalau kamu rindu pada ayahmu lagi. Kita bikin lagi perahu kertasnya sama-sama”, aku memulai berbicara ketika Asih memejamkan matanya dan berdoa untuk ayahnya. Ayah Aini menghilang terbawa badai ketika melaut. Maka aku mengajarinya melepaskan perahu kertas warna warni ini ke laut untuk menyampaikan pesan kerinduan kami pada orang yang kami sayangi. Dulu ibuku yang mengajari sebelum ia berangkat ke negeri Jiran menjadi TKW. Tapi setahun kemudian, aku meninggalkan desa pantai itu. Ibuku menjemputku untuk tinggal bersamanya di Johor. Masih kuingat kata- kata Aini sebelum aku pergi. “Berarti mulai sekarang aku akan membuat perahu-perahu kertas ini sendiri. Dua set, semoga yang satunya sampai padamu” *** Sekarang, setelah sepuluh tahun kami pulang kembali ke desa pantai ini, karena nenekku sudah terlalu tua dan aku juga sudah menyelesaikan gelar dokterku. Ibu berharap aku mengabdikan ilmuku dikampung kami. Mungkinkah Aini yang melepaskan perahu-perahu kertas itu? Tanpa sengaja aku meoleh kesamping, disana persis dekat karang-karang besar berdiri seorang gadis seusiaku. Ia melemparkan tujuh buah perahu kertas lagi ke laut. Lalu ia memejamkan matanya, berdoa. “Aini!!”, Ia menatapku heran, lalu tiba-tiba matanya berbinar. Aku yakin ia masih mengenali bekas luka di dahiku, Elfarizy -teman masa kecilnya-. 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)