Sabtu, 09 Februari 2013

ODHA, jangan biarkan mereka mati sebelum mati...

Jujur, dulu bagi saya HIV itu adalah penyakit kutukan. Karena keidentikannya dengan prilaku seks menyimpang. So, dont judge me kalau saat itu saya begitu underestimate sama penderita HIV. Saya pikir itu hukuman yang bagi kelancangan mereka. Apalagi kasus HIV ditemukan pertama kali pada seorang homoseksual. (Tolong ya, garis bawahi kata dulu-nya. Tentu saja sekarang saya sudah cukup punya otak untuk berpikir lebih terbuka) Pas sekali di jamannya SMP, lagi booming-boomingnya dorama dari Jepang berjudul "Kamisama, Please Give Me More Time" yang dibintangi Takeshi Kaneshiro. Drama ini menceritakan tentang seorang siswi SMU yang begitu fanatiknya mengidolakan seorang artis. Sampai-sampai ia rela menjual tubuhnya demi membeli tiket untuk menonton konser sang pujaan hati. Gila banget nggak tuh,, so ketika akhirnya tuh cewek terserang HIV, wajar-wajar aja dong. Alur ceritanya menarik sih, (seorang teman wanita saya bahkan sampai menangis karena haru). Di dorama ini digambarkan berbagai tindakan diskriminatif yang dialami si cewek akibat penyakitnya tersebut. Agak tersentuh juga sih, tapi dianya kan tetap salah (ngeyel!!).
Dengan bertambahnya usia, pikiran saya jadi lebih terbuka dan melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang. Apalagi kampanye tentang HIV/AIDS makin gencar dan dukungan terhadap ODHA bertambah banyak. Jujur loh, awalnya saya kaget banget saat tanggal 1 desember ditetapkan sebagai hari AIDS sedunia. Ternyata penyakit ini telah menjadi duka dunia. Ini masalah kita bersama. Dan pelan-pelan juga otak bebal saya berpikir lagi. Banyak sekali penderita HIV itu yang sangat innocence malah, lihat saja bayi-bayi yang terlahir dari ibu ODHA, mereka sama sekali tak berdosa sob. Atau seorang temennya kakak kenalan saya yang menerima virus bangsat itu ketika menerima donor darah. Padahal dia itu orangnya alim banget. Jadi masih berhakkah saya yang keimanannya begitu dangkal ini mengatakan mereka, -bayi-bayi malang itu- sebagai kutukan? Sungguh pemikiran yang kejam kan? Saat itu saya menundukkan kepala saya dalam-dalam, menekuri bumi. Betapa ternyata ODHA jauh lebih baik dari kita. Di tengah diskriminasi, mereka tetap bisa survive. Kita yang tolol sodara-sodara, yah tolol sekali. Karena hanya orang tolol saja yang percaya HIV menular melalui pemakaian alat makan bersama, toilet bahkan pakaian. Pernah waktu itu saya menonton film India tentang ODHA yang sediiiih banget (lupa judulnya). Ceritanya tentang dokter wanita yang baik banget, suka memberi penyuluhan tentang AIDS. Tapi ternyata beliau juga kemudian menderita HIV. Suaminya yang suka main perek, telah menulari penyakit itu ke dia dan bayi yang dikandungnya. Sedih banget liat kehidupan dia pasca vonis itu. Open your eyes guys, kalian gak mau kan jadi pembunuh? Tahu tidak, kebanyakan ODHA meninggal bahkan sebelum Virus AIDS itu mengganas di tubuhnya. Apa sebabnya, karena mereka depresi dengan tekanan dan celaan miring dari orang-orang disekitarnya. Kadang-kadang kita juga jadi bagian dari orang itu. Ayo support mereka man teman, jangan biarkan mereka mati sebelum mati. Sumber gambar : Mr. Smith's J-Dorama Blog, Radio Mogadisho "Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis Keira The Novel"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)