Sabtu, 09 Februari 2013

Menemani Ibu Pergi Maraton

"Bu, kalau perut ibu besar begitu berat tidak?", tanyaku polos melihat ibu memegang pinggangnya setelah menjemur pakaian. Umurku enam tahun saat itu, dan syukurnya meskipun nakal aku tidak keberatan membantu ibuku. Saat itupun aku sedang membantu beliau. "Tentu saja nak, oh ya...kemarin kamu pernah membantu ibu membawa tiga butir kelapa kan? Beban perut ibu ini sama dengan menjenjeng sembilan butir kelapa. Bisa kamu bayangkan, makanya ibu sering memintamu memijit pinggang ibu", Dan seperti yang sudah-sudah, ibu akan menasehatiku macam-macam dan menyelingi dengan cerita-cerita. Aku selalu suka mendengarkan cerita ibu. Kami tinggal di desa, aku satu-satunya anak ibu waktu itu. Sebenarnya, aku punya dua orang kakak. Tapi mereka meninggal ketika masih bayi. Aku sudah sering melihat orang hamil dengan perut yang membesar, namun baru kali ini aku menyaksikan ibuku sendiri. Tak ada lelah di wajahnya. Selama hamil, ibu sering minum yang aneh-aneh. Apalagi setelah perutnya membesar seperti sekarang. Aku sering diminta ibu memetik daun kapuk di pagar rumah, katanya itu untuk melancarkan ASI kelak. Selain itu nenekku juga menyiapkan ramuan yang aku tidak tahu dibuat dari apa. Namun, kata beliau itu untuk melancarkan persalinan nanti. Ibu tidak meminum susu seperti yang kulihat iklannya di TV tetanggaku. Ayahku hanya seorang buruh penyadap karet saat itu, tentu susu itu sangat mewah untuk ukuran ekonomi kami. Tapi sebagai gantinya, ibu banyak mengkonsumsi jamu-jamu alami yang ia buat sendiri. Biasanya bahan-bahannya ada disekeliling rumah kami. Saat perut ibu makin membesar, ibu mulai rajin pergi maraton (jalan-jalan pagi), biasanya dimulai sejak subuh. Di kampung kami memang biasanya lumrah bila ibu hamil pergi meraton, hal ini dipercaya untuk memperlancar proses persalinan. Karena ayahku pergi bekerja sejak subuh, maka aku yang harus menemani ibu pergi maraton. Awalnya aku tidak senang melakukannya, karena aku harus bangun lebih pagi. Bahkan pernah sampai menangis, karena dibangunkan saat masih mengantuk. Kala itu ibu pergi maraton sendiri, dan aku khawatir sampai ibu pulang ke rumah. Sejak saat itu, aku rajin menemani ibu maraton. Dan akibat hal ini, aku jadi terbiasa bangun pagi sampai sekarang :) Di jalan, kami selalu bertemu dengan uni Des yang juga sedang hamil. Ia maraton ditemani suaminya, karena suaminya seorang pegawai negeri. Jadi tidak terlalu pagi masuk kerjanya. Entah kenapa orang-orang di kampung kami sepertinya memang gampang hamilnya. Jarang sekali ditemukan pasangan yang menikah bertahun-trahun tapi belum dikaruniai anak. Mungkin karena kondisinya masih bagus dan belum tercemar seperti di kota. Atau mungkin juga ada "cara cepat hamil" yang diwariskan turun temurun oleh sesepuh kami. Dan kegiatan menemani ibu pergi maraton ini menjadi kegiatan rutinku selain menemani ibu ke bidan desa (Kalau yang ini kadang-kadang ditemani ayah juga). Aku paling suka maraton di hari minggu, karena di hari ini banyak yang pergi maraton. Tidak hanya ibu hamil, teman-temanku juga ada. Begitulah pengalamanku berhubungan dengan mengurus ibu hamil, dan umurku baru enam tahun saat itu. Karena itu aku berjanji pada diri sendiri untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik kelak, agar punya waktu lebih banyak memperhatikan kehamilan istriku kelak. Atau sebaiknya aku mulai melihat-lihat artikel cara cepat hamil dari sekarang yah ^_^ (pacar saja belum ada, hehe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)