Sabtu, 09 Februari 2013

Eartquake Birthday (a flash fiction)

Kalau takdir itu seindah cerita-cerita di sinetron, aku mau jadi putri yang ditukar saja. Ayah dan ibuku benar-benar bukan tipe orang tua yang kalian harapkan. Uang jajanku dijatah ketat, belum lagi jam malam yang keterlaluan banget. Kalau lewat dari jam sembilan aku masih belum datang, bisa dipastikan ayah sudah menunggu di sofa dengan kerut sebelas di keningnya dan bisa dipastikan aku harus mendengar ceramahnya yang sudah sangat kuhapal. Hari ini ulang tahunku, aku sudah janjian dengan teman-temanku untuk hangout bareng ke kota sebelah. Bukan aku yang bayarin sebenarnya, tapi makan siang aku yang traktir. Untuk dapatin ijin ini, aku terpaksa jual nama Amanda, tetanggaku yang culun, tapi sangat dipercaya ayah. Satu lagi, orang tuaku tidak pernah mengizinkan pesta ulang tahun. Seringkali mereka memberiku kado yang norak dan ketinggalan jaman. *** "Ayo tiup lilinnya!", "Eits, make a wish dulu dong", teman-temanku pada sibuk bertepuk tangan. Sebelum tiba-tiba sebuah getaran hebat membuat meja bergoyang dan lilinnya mati. "Gempa!!!", kami semua berlari keluar. Beberapa menit kemudian suasana kembali normal, kami melanjutkan makan di restoran itu. Dan dilanjutkan dengan nonton premier Harry Potter 3D, hari yang sangat membahagiakan. Ibuku yang biasanya bawel pun belum menelepon lagi sejak tadi pagi. Tapi entah kenapa perasaanku jadi tidak, berasa kayak ada something wrong gitu. Saat mau pulang, di toko elektronik kami melihat headline news yang menayangkan daerah terkena gempa. Dan betapa syoknya kami melihat bangunan-bangunan yang hancur itu, bangunan yang sangat kami kenal karena gedung-gedung itu ada di kota kami yang ternyata jadi pusat gempa. Kami semua menjerit dan bertangisan. Ryan, temanku yang punya mobil melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. "Gak bisa dihubungi Rin...", Lidya mulai menangis. "Mama....", Amanda pun tak bisa menahan tangisnya. Teman-teamn cowok terpekur diam, sementara aku masih berusaha menahan air mataku. Menatap gantungan hp "norak" hadiah ulang tahun dari ibu tahun kemarin. Katanya itu bisa melindungiku dari bahaya. Dan tiba-tiba tangisku pecah. Amanda memelukku dalam tangis yang sama. Kami masih belum tahu kabar keluarga kami. Perlahan-lahan bayang ayah dan ibu yang malu-maluin berkelebat di benakku. Walaupun mereka keras dan sering berbeda pendapat denganku mereka sangat menyayangiku. Kebutuhan sekolahku selalu dipenuhi, dan "untuk beli buku" adalah senjata ampuh bagiku untuk minta jajan tambahan. *** "Ayah...ibu...", aku menghambur ke pelukan ayah begitu menangkap sosoknya di tenda darurat. "syukurlah kamu tidak apa-apa nak,", ibu ikut memelukku dalam haru. Ayah melepaskan pelukannya dan mengambil sesuatu di tas. "Ini, ternyata ayah tak berhasil menyelamatkannya. Tadinya benda ini hadiah ulang tahun buatmu tapi sekarang sudah rusak", ayah menyodorkan tablet yang sudah retak itu padaku. Seminggu ini aku nyinyir sekali minta dibelikan tablet, alasannya buat unduh ebook pelajaran. "tapi nanti kalau kondisinya membaik dan toko kita sudah buka lagi akan kami belikan yang baru", ibu menimpali sambil terus membelai rambutku. Dan aku meraung sejadi-jadinya. "Karin gak perlu itu bu, Krin hanya ingin terus bersama-sama dengan ibu dan ayah. Karin janji akan nurut sama ibu dan ayah" Hari itu tepat di ulang tahunku yang ke-16, kota kami lumpuh. Tapi syukurlah orang-orang yang kukenal semuanya selamat. Walau pemulihannya mungkin lama, tapi aku sudah menemukan kado ulang tahunku yang terindah. Kado yang sebenarnya aa sejak lama, tapi aku mengabaikannya, yaitu cinta orang tuaku. ff ini terinspirasi dario komik "tomorrow"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)