Sabtu, 09 Februari 2013

Bening Tiga Hati

Cerpen ini terinspirasi dari drama seri malaisya "Nur kasih"
Sarah "Malam ini mas Adam tidur di kamar mbak Nuraini saja, beliau kan istri pertama",dengan senyum yang sedikit dipaksakan aku berhasil mengucapkan hal itu. Suamiku memandangku dengan pandangan yang tak terdeskripsikan. Wajahnya yang menghijau bekas cukuran terbentuk gagah oleh sepasang rahangnya yang kokoh. Sungguh laki-laki ini telah membawa banyak perubahan dalam hidupku. Kami bertemu beberapa tahun lalu di Sidney. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, seorang pria ambisius bermasa depan cerah. Aku masih kuliah di Queensland University saat itu.Dan anugrah bagiku dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi tentu saja jalan cinta kami tidak mulus, dia muslim. Ayahku bahkan mengusirku dari rumah, kuliahku terputus. Namun demi cinta aku rela hidup dalam keprihatinan. Ya kami menikah, seperti dalam novel-novel romance. Mengenai keluarga Adam aku tak pernah tahu dan ia tak pernah ingin menceritakannya. Di samping apartemen yang kami tinggali, ada sekelompok wanita dari Malaysia. Pakaiannya sangat tertutup. Karena berdekatan kami akhirnya berteman. Dari mereka aku tahu sedikit banyak tentang islam. Aku benar-benar tertarik pada agama itu. Bahkan aku memuaskan rasa ingin tahuku dari buku-buku dan sumber internet. Tanda tanya terbesar di benakku adalah mengapa suamiku sangat berbeda dengan karakteristik laki-laki muslim yang kubaca. Ketika aku mengajak Adam berdiskusi tentang hal ini, ia marah-marah. Dia bilang aku tak perlu mengurusi shalat, minuman keras atau apapun. Yang harus kuketahui adalah dia mencintaiku. Itu saja. Seperti biasa aku mengalah, tak pernah bertanya lagi padanya. Namun diam-diam aku mengaji lebih jauh pada Asyah, tetanggaku. Dan diam-diam aku mengerjakan shalat. Rumah tangga kami ternyata tak seindah negeri dongeng. Adam mulai sering marah-marah. Terlebih lagi setelah menerima telepon dari Bandung. Dan sedikit-sedikit rahasia memilukan itu sampai padaku. Ternyata Adam sudah menikah, ia dijodohkan dengan putri sahabat ayahnya. Adam yang pemberontak tidak menerima hal itu, setelah ayahnya meninggal ia pergi meninggalkan Indonesia untuk menggapai mimpinya di Sidney. Meskipun berkali-kali ia mengatakan hanya mencintaiku, hatiku tetap sakit. Memang poligami diizinkan dalam islam, namun aku tak pernah mengira aku yang muallaf akan mengalaminya. Terlebih aku merasa sangat bersalah pada istri pertama Adam. Semua ini benar-benar diluar kemampuanku. Hanya beberapa hari setelah kepindahan kami ke Jakarta, aku kehilangan akal sehat. Yang kuingat entah telah berapa lama, laki-laki berbaju putih itu mengatakan aku sudah sembuh. Aku keluar dari penjara itu dan kuputuskan umtuk memakai pakaian hijab. Saat itupun tiba, dimana aku harus bertemu Nuraini, perempuan berhati cahaya. *** Adam meninggalkan kamarku masih dengan keraguannya. Disebelah kamar ini adalah kamarnya Nuraini, suamiku disana. Kuambil tasbih dan pelan-pelan kulantunkan dzikir mengusir semua kecemburuan Nuraini "Sebaiknya mas Adam menemani Sarah dulu malam ini, kasihan ia masih labil", kusimpulkan senyum pada laki-laki itu. Yang sempat menorehkan luka di hatiku. "Tapi nur,..." "Sudahlah mas, Nur tidak apa-apa", dan laki-laki itu berlalu. Pernikahan kami karena dijodohkan. Aku yang seumur hidup tidak pernah mencicipi pacaran menerima saja perjodohan itu. Bagiku pernikahan bukan tentang dua hati saja, tapi tentang dua keluarga. Apalagi Pakle Hadi adalah teman satu perjuangan abah saat di Mesir dulu. Aku mengira, pastilah anaknya adalah laki-laki soleh. Kalau ia tak mencintaiku, itu masih bisa kuterima. Yang tak pernah kusangka adalah ia meninggalkanku bahkan sebelum malam pertama kami. Saat itu aku berpikir untuk tidak akan memaafkan laki-laki itu seumur hidup. Aku pergi ke Jakarta dan memulai hidupku di sana. Aku menyelesaikan kuliahku di bidang desain. Dengan perjuanganku, aku berhasil bekerja di sebuah Perusahaan property bonafit. Yang tak kuperhitungkan adalah aku kembali bertemu Adam. LAki-laki yang sangat ingin kulupakan. Terlebih kami berada dalam satu departemen. Dengan terpaksa aku harus sering bekerja sama dengannya. Adam yang sekarang ternyata bukan Adam yang dulu. Dia telah banyak berubah. Rajin shalat, lebih ramah dan tidak seambisius dulu. Perlahan-lahan perasaan kewanitaanku memberi peluang kembali padanya untuk masuk ke dalam hidupku. Toh, dengan kata-kata penyesalannya pertahananku goyah juga. Kami akhirnya rujuk. Kupikir ini adalah akhir bahagia bagi kisahku. Namun kemudian aku mengetahui tentang Sarah yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Meski Adam berkali-kali mengatakan ia akan meninggalkan Sarah. Pilihan yang sangat tidak adil bagi Sarah, wanita yang jadi cinta pertama suamiku. Saat itu juga aku mengurus perceraianku dengan Adam. Beberapa hari sebelum persidangan kami, sarah menemuiku. Ia memintaku untuk membatalkan gugatanku. Ia bahkna berjanji untuk pergi dari kehidupan kami. Saat itu kami, dua wanita yang terjebak dalam satu jalinan ganjil saling bertangisan tanpa suara. Kulihat lagi Sarah, jilbab besarnya berkibar ditiup angin. Kulihat cahaya ketulusan di matanya. Namun juga kerapuhan. Wanita yang gila karena seorang pria tentulah sangat mencintai laki-laki itu. Dan kalimat itu meluncur saja dari mulutku, "Sarah maukah kau berbagi bersmaku. Aku istri pertamanya, tapi kau adalah cinta pertama suamiku. Kita sama-sama berhak terhadapnya. Mungkin nanti salah satu dari kita akan ada yang terluka. Tapi berjanjilah untuk tetap mempertahankan pernikahan ini" *** Kupandangi dinding kamar bercat hijau muda. Dibalik dinding itu ada suamiku bersama maduku. Astaghfirullahaladzim....kuambil tasbih dan melantunkan dzikir. Berharap kecemburuanku pergi jauh-jauh. Adam Aku meninggalkan kamar Nuraini. Bingung malam ini harus tidur dimana.Aku tak tahu harus mengetuk lagi pintu siapa. Saat dijodohkan dengan Nuraini aku benar-benar marah. Aku merasa hidupku dikekang. Kujalankan pernikahanku hanya demi wasiat terakhir ayahku. Namun surat itu datang, surat beasiswa MAsterku ke Sidney. Tanpa pikir panjang aku pergi, bahkan tanpa pamit pada Nuraini. Di Sidney, aku bertemu Sarah. Tipikal wanita modern yang sangat menarik. Meski tanpa restu kami menikah. Sampai akhirnya Aidil, kakakku berhasil menemukan nomor kontakku di Australia. Dan setiap hari ia menelponku, kadang-kadang ibu. Aku benar-benar stress, apalagi Sarah mulai sibuk dengan urusan tidak penting seperti haram-halal. Maka ketika ada panggilan untuk bekerja di perusahaan di Jakarta, aku menerimanya. Sarah ternyata lebih tertekan dibanding aku. Dia akhirnya harus mendapat perawatan mental. Aku mengurus perawatannya di sebuah pusat rehabilitasi mewah. Berkat bantuan mas Aidil, aku perlahan-lahan mulai menata hidupku. Aku mulai mendekatkan diri pada Tuhan dan menyadari betapa besarnya kesalahanku. Yang tidak pernah kuduga adalah Nuraini ternyata menjadi rekan kerjaku di kantor. Sikap tegarnya malah membuatku semakin merasa kecil. Satu yang kutahu, dia sangat membenciku. Dan itu bisa kuterima. Tiap hari bertemu, aku semakin menyadari pesona Nuraini dan aku jatuh cinta padanya. Berkat perjuangan panjang, akhirnya Nuraini mau rujuk denganku. Hingga kemudian Sarah dinyatakan sembuh. Aku tahu kali ini aku tak punya kesempatan lagi. Aku bahkan sudah siap kalau harus kehilangan keduanya. Di luar dugaan, ternyata mereka berdua menerimaku. Kupikir ini akhir yang bahagia bagiku. Tadinya... Sarah dan Nuraini tidak tinggal serumah, aku berusaha berbuat seadil-adilnya. Meski seringkali aku menyadari aku cenderung lebih memperhatikan Nuraini. Masalahnya lagi, mereka berdua sering mengalah yang membuatku benar-benar bingung. Seperti malam ini, ini malam pertama kami di Bandung. Di rumah orang tuaku. Aneh rasanya saat membawa kedua istriku pulang ke kampung. aku yakin tetanggaku pasti merasa lebih aneh lagi. Maka kuputuskan untuk tidur di sofa saja. Tapi aku tak mampu memicingkan mata. Aku memikirkan masa depan kami. Sampai kapan aku sanggup berlaku adil tanpa melukai salah satu diantara mereka berdua. Dan bagaimana dengan anak-anakku kelak. Apakah ini tidak akan mempengaruhi perkembangan psikologis mereka? "Adam,,,!!", Ibuku tiba-tiba datang. mungkin ia mau ke kamar mandi. "eh, ambu...", "kamu kenapa tidur di sofa?" "Adam takut bersikap tidak adil pada Nur ataupun Sarah ambu" "Tapi dengan begini kamu telah bersikap tidak adil pada mereka berdua" Ibuku benar, seandainya ku memiliki pilihan... sumber gambar : Be a writer Oh! Artis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)