Sabtu, 09 Februari 2013

Aku dan Sepatuku: Satu Potret Kemandirian

Saat itu aku baru saja duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Sudah jadi tradisi kalau setiap kenaikan kelas aku selalu dibelikan sepatu baru. Bukan karena orang tuaku punya banyak uang, tetapi karena memang sepatu-sepatu itu hanya bertahan setahun. Itupun kadang-kadang telah bolong sana-sini dan alasnya manggalokak[1]. Wajar saja, karena ibuku hanya membelikan sepatu yang harganya lebnih mahal sedikit dari sendal jepit. Di minggu pertama aku menduduki kelas iv, aku dipilih guru untuk mewakili sekolah mengikuti lomba hafalan surat pendek di mesjid Raya Kapbupaten. Tahun itu, MTQ tingkat propinsi diadakan di kabupatenku, jadi ada acara-acara khusus juga untuk anak sekolah. Bersama teman-temanku yang ikut lomba adzan dan murotal, kami ke kota kabupaten menaiki mobil ciber[2] yang dirental ibu kepala sekolah. Tapi justru di mesjid itu malapetaka itu menimpaku, sepatuku baruku yang baru berusia seminggu hilang sebelah. Sampai pulang kembali ke desa, sepatuku tetap tak ditemukan. Aku yakin itu adalah keisengan dari anak-anak saja. Karena tidak mungkin ada yang mau mencuri sepatu murahanku, sebelahku pula. Di mobil aku menangis keras-keras, karena aku yakin aku tak mungkin mendapatkan sepatu baru dalam beberapa bulanm ini. Saat itu aku berharap sekali menjadi juara lomba itu supaya uangnya dapat dibelikan sepatu. Namun Allah punya rencana lain, aku tidak memenbangkan lomba itu. Karena banyak peserta lain yang hafalannya lebih baik dariku. Aku hanya menyabet predikat juara harapan, hadiahnya sarung kecil dan buku do’a. Akan tetapi tetap bisa membeli sepatu baru seminggu kemudian, dengan uang hasil kerjaku sendiri. Pas sekali padi-padi sudah hampir menguning. Itu artinya tiap pagi dan sore harus dijaga dari serangan burung-burung pipit yang menyukainya. Karena ayah telat menggarap, jadi sawah kami baru berbunga. Berbeda dengan sawah paman yang sudah berisi. Anak-anak paman sekolah di kabupaten, jadi tak bisa membantunya. Sedangkan setiap sore paman harus mengurus kerbaunya. Maka paman memintaku membantu menjaga sawahnya selama setiap sore. Aku melakukannya dengan senang hati karena saat pulang paman sering memberiku kue. Seminggu kemudian, padi paman dipanen. Paman memberiku uang Rp. 10.000,- sebagai upah mernjaga sawahnya setiap sore. Saat itu aku langsung memikirkan celenganku yang terbuat dari kaleng susu bendera. Kalau celengan itu kubongkar dan ditambah dengan uang dari paman pasti cukup untuk membeli sepatu baru. Setelah menghitung pecahan 50-an itu, ternyata jumlahnya Rp.4.850,- masih kutrang 150. Tapi saat itu hari minggu, jadi aku bisa mengumpulkan uang 150 sampai hari kamis (hari pasar). Sesuai rtencana, hari kamis uangku terkumpul dan aku ikut ibu pergi ke pasar. Saat itu ibu ingin membelikanku sepatu yang lebih mahal biar tahan. Sebab ibu baru saja menjual setandan pisang dan cukup banyak uang berlebih. Namun aku bersikeras untuk tetap mebeli yang harganya Rp. 15.000,- saja, sesuai dengan jumlah uang milikku. Esoknya aku pergi ke sekolah dengan bangga. Aku memakai sepatu baru yang kubeli dengan uangku sendiri, hasil bekerja. Walaupun modelnya masih sama dengan sepatu-sepatuku sebelumnya. Tapi dari situlah aku belajar mandiri. Sejak saat itu, aku sering melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Ketika ada acara keramaian aku dan adikku berjualan keripik singkong yang dibuat ibu. Pernah juga aku dimarahi guru ngaji karena menyambi berjualan mercon di surau saat mengaji. :D *** *Tulisan ini diposting untuk Lomba Menulis Kisah Inspirasi Sepatu Dahlan*
Nama : Gea Harovansi Tempat/tanggal lahir : Sijunjung/ 2 Agustus 1990 Alamat : jorong kapeh panji no 40A, kenagarian Taluak IV suku, Kecamatan Banuhampu, kabupaten Agam, sumatra barat, 26181 No. HP : 081993747855 Email : gea.harovansi@gmail.com Blog : http://bugot.wordpress.com/ Twitter : @harovansi Facebook : Gea Hartovansi (bugot) [1] Bahasa minang, kondisi sepatu dimana telepaknya lepas sebagian atau seluruhnya [2] Mobil kijang pick up yang diberi tenda dan tempat duduk di kiri kanan, umum jadi kendaraan umum pengganti angkot. Disebut ciber, singkatan dari cigak beruk (cigak=kera, beruk=monyet), karena penumpang bisa bergelantungan dipintunya yang lebar seperti ciber :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)