Minggu, 09 Januari 2011

Nagari Hijau

   

Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka tiap-tiap daerah mulai dari tingkat satu diberikankemandirian dan kebebasan untuk kembali lagi memakai konsep-konsep adapt leluhur mereka. Tentu saja dengan penmyesuaian terhadap situasi dan kondisi jaman sekarang. Berkat program ini, maka di provinsi Sumatra Barat diberlakukan program kembali ka nagari. Dalam konsep kekeinian, maka nagari adalah wilayah pemerintahan yang ada dibawah kecamatan. Dimana nagari memiliki pemerintahan yang berada dibawah cakupan PEMDA namun dengan berpedoman pada adat Minangkabau juga. Dan dibawah nagari ada lagi wilayah pemerintahan yang disebut jorong.

Sebagai orang yang lahir dan besar di salah satu nagari di Sumatra Barat (Sijunjung), saya sedikit banyaknya tahu mengenai daerah saya. Dulunya Sijunjung terkenal sebagai penghasil buah lansek (Lansium Domesticun). Hingga lahirlah slogan Sijunjung Lansek Manih yang terkenal ke berbagai penjuru Indonesia. Hal itu terjadi karena ketika musim panen, buah lansek melimpah karena sama-sama matang di tiap-tiap kebun milik penduduk.  Jadi bisa didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Sampai sekarang, Sijunjung masih dikenal sebagai penghasil lansek walaupun tidak semelimpah dulu. Menurut cerita-cerita dari nenek saya, hal ini sangat dipengaruhi oleh pemerintahan waktu itu (wali nagari). Saat itu ada peraturan bahwa-bahwa tiap-tiap kebun dalam satu rumah gadang wajib memiliki pohon lansek. Dan juga ada denda bagi orang-orang yang memetik buah lansek sebelum matang. Jadi ketika musim berbuah tiba, semua pohon lansek berbuah merata. Sekarang peraturan seperti itu tidak ada lagi, tapi pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.

Yang menatik lagi dari nagari saya adalah diberlakukannya lubuk larangan. Program ini adalah dengan melarang mengambil ikan di sungai-sungai nagari sampai saatnya tiba (biasanya enam bulan sekali) sungai dibuka untuk pemancingan. Dimana keuntungannya untuk pembangunan di jorong masing-masing tempat sungai tersebut berada. Biasanya terdapat kerjasama antara beberapa jorong dalam hal ini. Dan pada hari ketiga sungai dibuka, masyarakat dibebaskan untuk memancing tanpa bayaran sebelum besoknya dititip lagi. Bila ada yang memancing diluar waktu itu, akan didenda berupa semen. Apalagi kalau sampai menggunakan racun atau setrum, ini bias dianggap pelanggaran berat.

Dari semua ini, saya bilang bahwa nagari saya mertupakan nagari hijau.

Dari sini saya berkesimpulan bahwa ternyata penyelamatan lingkungan hidup sangat diopengaruhi oleh pemerintah dan kearifan lokal. Mungkin peraturan dari wali nagari dulu itu bisa dipakai lagi sekarang, bukan saja di nagari sijunjung. Tapi di tempat-temapat lain (tentu saja tanamannya tidak harus pohon lansek). Mungkin pemerintah bias menerapkan kewajiban untuk memiliki tanaman di tiap rumah (kalau di perkotaan mungkin bias memakai pot atau teknik hidroponik). Bila ini dilakukan, maka praktis akan sangat mengurangi emisi rumah kaca. Karena bila tiap rumah memiliki pohon, maka akan ada banyak pohon yang menetralisir gas-gas berbahaya yang kita ciptakan tiap hari. Bila ini berhasil, maka kita tidak lagi menciptakan sekedar sebuah nagari hijau, Akan tetapi membawa Indonesia menjadi Negara hijau.    

5 komentar:

  1. lansek itu sejenis duku, tapi ini lebih kecil dan manis

    BalasHapus
  2. Langsep mungkin ya namanya kalo di tempatku, beda dikit :)

    BalasHapus
  3. yup, lagi musi gak sekarang disana mas?

    BalasHapus
  4. Lagi nggak tuh, buah pada kurang musim nih di sini

    BalasHapus

Ayo, tinggalkan jejak... :)