Rabu, 22 Desember 2010

perlahan-lahan wajah "putra"ku memudar

"Abi...! ayo kita main bola"
Aku tak bisa berkata apa-apa, ketika bocah lugu itu menarik-narik tanganku dan menunjuk ke halaman luar, rumah kami? Aku masih tidak percaya, dia memanggil abi. Bagaimana bisa? Kuperhatikan garis-garis wajahnya, aku melihat diriku disana. Benar-benar mirip. Walaupun bingung aku mengikutinya juga ke halaman belakang, aku sama sekali asing dengan tempat ini tapi entah kenapa aku seperti begitu mengenalnya. Dan pakaian ini, bagaimana mungkin aku bisa berdandan seperti ini. Kemeja mahal dari bahan satin ini, dan dasi ini sejak kapan aku mahir memakainya. 
Apa ini mimpi?? Tapi semuanya terlihat begitu nyata. Beberapa menit berikutnya aku mulai melupakan ini mimpi atau nyata karena sudah terlalu asyik bermain dengan "putra"ku. Mungkin saja memang inilah kehidupanku, mungki aku menderita semacam amnesia yang menyebabkan aku kehilangan memoriku beberapa tahun belakangan. Aku hanya tersenyum meraba-raba cambang di wajahku, cambang ini membuatku lebih dewasa. Tapi, anak ini...astaga!! Aku lupa dimana ibunya? "Istriku"?
"Abi, tadi Ummy bilang makanannya ada di meja. Ummy ada majelis ta'lim di mesjid", Anak ini seperti mengerti jalan pikiranku. Kupandangi lagi ia, ah bocah itu adalah anakku.
Beberapa waktu kami asyik bermain bola di belakang rumah, sampai akhirnya adzan ashar berkumandang. 
"Assholatukhairumminannnau...!!!" loh koq, apa-apaan muadzinnya. Bukankah lafal itu hanya dibaca ketika subuh. Dan tiba-tiba aku kehilangan putraku.
"jagoan...kemana jagoan abi nih?"
***
Kupandamgi lagi kamar dinding kamarku, "bukankah ini kamrku beberapa tahun yang lalu?". Lalu aku meraba-raba pipiku berharap akan merasakan ada rambut disana. Tapi tidak ada, 
damn...mimpi ternyata!!
Dan muadzin di mesjid dekat rumah telah selesai mengumandangkan adzan subuh.
Sejak mimpi itu, aku tak ayal jadi uring-uringan memikirkannya. Aku masih ingat dengan jelas dengan wajah bocah itu, hanya saja, yah itu...aku tidak empat melihat wajah "istriku". AKHirnya aku kembali mengira-ngira siapa ia,mulai kudata perempuan yang pernah dekat atau minimal pernah aku sukai lah, atau mungkin saja aku belum bertemu dengannya sekarang. Yang pasti aku percaya itu adalah salah satu potongan fragmen takdir yang bisa aku pilih. Karena bukankah takdir manusia adalah sebuah pilihan?  Untuk mendapatkannya aku harus memilih dari sekarang, harus bekerja keras dari sekarang.
Sampai akhirnya aku membaca headline ebuah majalah islam Apa yang sudah kaulakukan untuk agamamu?, aku kembali ingat ucapan kakak mentor LDPM di kampusku beberapa waktu lalu.
Kalau impianmua hanya sekedar punya pekerjaan bagus, keluarga dan rumah tangga yang sakinah, betapa memalukannya? Apa yang akan kau lakukan untuk negaramu, bangsamu dan agamu?
Tiba-tiba saja aku menjadi sangat malu....aku mengubah cita-citaku. TIidak lagi sesederhana itu. Dan perlahan-lahan wajah "putra"ku memudar menjadi siluet yang buram dan akhirnya terlupakan. Aku tak lagi menerka-nerka siapa wanita itu, karena memang belum saatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)