Sabtu, 20 November 2010

Cinta tanah air, tapi tanah air tak cinta

Lagi, Tenaga kerja indonesia mendapat perlakuan yang tidak manusiawai dari majikannya. Entah yang keberapa? 
Saya masih ingat pertama kali mendengar dan tahu tentang penganiayaan TKW saat duduk di kelas lima SD. waktu itu sedang heboh-hebohnya kasus Nirmala Bonat. Saya sampai bergidik melihat kondisinya. Hal itu juga memberikan senjata baru bagi ibu saya bila saya dan adik saya mengeluhkan uang jajan yang sedikit atau seragam sekolah yang sudah lusuh. Maka ibu akan bilang, "kalau begitu ibu bekerja saja di Malaisya jadi pembantu". Kalimat itu langsung membuat kami diam karena kami melihat sendiri di tivi bagaimana kondisi Nirmala Bonat. Dan kami tidak mau ibu bernasib seperti itu.
Sekarang, sudah lebih dari delapan tahun sejak peristiwa itu. Dan saya masih saja membaca berita yang sama, berita penyiksaan terhadap TKW Indonesia oleh majikannya di Arab atau Malaisya.
Walaupun berita penyiksaan TKW selalu saja muncul di media, namun tetap saja agen penyalur tenaga kerja ke luar negeri dibanjiri peminatnya. Yah tuntunan hidup memaksa demikian, mereka butuh biaya yang besar untuk anak-anaknya yang tidak cukup dari penghasilan suami. 
Sebenarnya siapa yang mau bekerja dinegeri orang nan jauh dari keluarga dan kampung halaman dengan resiko yang tinggi. Akan tetapi mereka tidak punya pilihan, mereka tidak punya ijazah S1 sehingga mereka bisa melamar menjadi PNS dan bisa bernafas lega. Orang tua mereka juga tidak meninggalkan tanah yang luas untuk mereka garap. Mereka tidak punya modal atau pengetahuan yang cukup untuk memulai sebuah usaha baru. Akhirnya, negeri seberang dengan segala mimpi-mimpinya menjadi pilihan terakhir mereka.
Mereka cinta tanah air, saking cintanya mereka dapat julukan pahlawan devisa. Tapi sayang tanah air tak cinta, tanah air tak mampu menjanjikan penghidupan yang layak bagi mereka. Sehingga mereka harus membanting tulang di negeri orang. 
gambar dari repubika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)