Jumat, 21 Agustus 2009

Rindu Ini Masih Milikmu

Ketika dulu, saya  berpikir untuk hijrah sejauh-jauhnya dari kampung halaman. Merasakan puasa dan lebaran di negeri orang. Saya ingin segera menyelesaikan SMA supaya saya bisa pergi melanglang buana. Jauh, jauh sekali. Karena itu saya selalu berambisi untuk kuliah diluar Sumatra. Untuk itu saya belajar mati-matian demi mencapai tujuan saya itu.
Ketika akhirnya kesempatan itu ada, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Sehingga saya tidak mungkin punya biaya untuk melanjutkan studi di kota-kota besar.  Saya pun tak mungkin mengharapkan beasiswa, karena intelegensi saya pun biasa-biasa saja.
Sehingga saat mengikuti SPMB, pilihan saya pun hanya tertuju pada Universitas-universitas di propinsi. Saat itusaya merasa sebagai Pecundang sebenarnya. Karena saya sadar, saya tidak punya satu hal yang sangat penting. Yaitu "keberanian". Di tengah mimpi-mimpi saya, saya merasa belum siap kalau nanti kenyataannya tidak seperti yang saya harapkan.
Sampai saya kuliah di salah satu PTN di propinsi saya, saya tetap merasa sebagai pecundang. Dari tempat tinggal saya ke kampus hanya memakan waktu kurang lebih tiga setengah jam. Sehingga walaupun indekost di kota tempat kampus saya, Saya tetap tak akan jauh dari kampung halaman saya. Saya akan tetap menghabiskan lebaran di sana.
                                          
Sekarang tahun kedua saya kuliah. Seperti yang dibayangkan, saya tetap liburan dan puasa pertama di kampung halaman saya. Tapi, ramadhan sekarang karena suatu hal saya tidak bisa puasa di kampung. Entah kenapa saya merasa ada yang kurang, ada sebuah kerinduan. Saya ingi sahur pertama kali bersama keluarga saya. Padahal, kejadian itu belum terjadi. Karena puasa baru dimulai esok harinya. Saya ingin menangis,,,(mungkin orang-orang di perantauan lebih sedih lagi dari saya)
Ternyata saya belum siap meninggalkan kampung halaman saya.Bahkan untuk jarak tiga setengah jam perjalanan. Saya merindukan tempat yang selama ini menjadi saksi perkembangan saya. Rindu rumah yang menyebabkan saya bisa berbangga hati menyebut "pulang".
Saya malah bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk menyilau kampung halaman saya kapanpun saya mau. Sebelum akhirnya saya benar-benar harus meninggalkan tanah ini untuk mengadu nasib. Saya tidak lagi merasa sebagai pecundang, Karena Universitas tempat saya kuliah pun bagus dan favorit.
Dalam hal ini saya belajar, " pendidikan yang bagus bukan cuma di kota-kota besar "


Untuk kampung halaman tercinta :"rindu ini masih milikmu"

4 komentar:

  1. *SAD*
    kk juga pernah ngerasain kek gitu,bahkan hampir sama persis..'pecundang',hahaha,bnr sama persis
    tp seiring berjalan wkt,everything is fine.bahkan sekarang mrs sangat beruntg bs kuliah disana..

    BalasHapus
  2. *SAD*
    kk juga pernah ngerasain kek gitu,bahkan hampir sama persis..'pecundang',hahaha,bnr sama persis
    tp seiring berjalan wkt,everything is fine.bahkan sekarang mrs sangat beruntg bs kuliah disana..

    BalasHapus
  3. bukan karna kuliah di tempat kita kak, pecundangnya. Tapi karna gagal "merantau jauh"

    BalasHapus
  4. Apa bedanya??
    buat kk gagal merantau jauh sm kuliah disana juga sama aja sama pecundang. apalagi kalo ngeliat sepupu ato teman yg kuliah d luar bhkn diluar negeri.but,selalu ada hikmah d balik semuanya.

    BalasHapus

Ayo, tinggalkan jejak... :)